Baru-baru ini, Telkom mengumumkan langkah besar dalam merampingkan anak usahanya dari 67 menjadi 19 entitas. Ini bukan hanya strategi bisnis, tapi juga pelajaran menarik tentang bagaimana kita bisa mengelola informasi dan catatan dalam kehidupan sehari-hari. Sama seperti Telkom yang memilih entitas paling penting untuk dikelola agar bisnisnya semakin kuat dan fokus pada digital, kita juga butuh memilah catatan mana yang memang layak untuk diingat dan disimpan jangka panjang.
Seringkali, kita terjebak dalam kebiasaan menyimpan terlalu banyak catatan, mulai dari ide yang belum matang hingga tugas-tugas kecil yang tak lagi relevan. Hal ini melelahkan pikiran dan justru membuat kita sulit menemukan apa yang benar-benar berguna saat dibutuhkan. Bayangkan jika setiap catatan yang kita buat diibaratkan sebagai anak usaha; semakin banyak tanpa seleksi, semakin berantakan dan susah dikelola.
Perampingan yang dilakukan Telkom mengingatkan kita bahwa menyisihkan dan merapikan catatan secara berkala itu penting. Catatan yang pantas disimpan dalam jangka waktu lama biasanya yang terkait dengan visi, rencana besar, serta pelajaran penting yang bisa kita refleksikan sewaktu-waktu. Sedangkan catatan harian atau ide yang sifatnya cepat berlalu lebih baik direkap atau diputuskan apakah sudah tidak relevan lagi.
Membatasi jumlah catatan bukan berarti membuang kreativitas, tapi sebaliknya memberikan ruang agar pikiran bisa lebih lega dan fokus. Dengan catatan yang lebih sedikit dan berkualitas, beban mental berkurang, dan kita bisa lebih mudah menelaah serta mengambil keputusan dari informasi yang tersisa. Ini tentu membawa rasa lega emosional yang sangat dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi setiap hari.
Tentunya, menyimpan ‘catatan Telkom’ pribadi bukan hanya tentang efisiensi, tapi juga penataan emosional. Setiap kali kita membersihkan dan memilih apa yang pantas disimpan, kita sebenarnya juga memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas dan berkonsentrasi pada apa yang benar-benar penting dan bermakna.
Jadi, mulai sekarang cobalah untuk bertanya pada diri sendiri: Catatan mana yang saya ingin bawa maju bersama saya? Mana yang hanya sekadar mengisi ruang tanpa memberi nilai? Dengan belajar dari langkah Telkom, kita bisa menemukan cara yang lebih bijak untuk menjaga catatan dan pikiran tetap ringan dan fokus, sehingga hidup sehari-hari terasa lebih terarah dan tenang.
